Senin, 26 November 2012

Bukan Sebuah Penyesalan


K
ini aku sudah resmi anak SMA, berseragam putih abu-abu. Entah senang atau sedih yang aku rasakan didalam hati. Sejak SD aku berkeinginan untuk melanjutkan sekolah ke kota dimana eyangku tinggal. Ya, di Semarang. Kota dimana ayah dan ibuku pertama kali bertemu. Tapi keinginan itu ternyata hanya mimpi, aku tidak diperbolehkan oleh orang tua untuk melanjutkan kesana. Akhirnya masuklah aku ke SMA 1 Banjarnegara ini. Sedikit berat untuk menerima, tapi apa boleh buat? Ini masa depanku, aku harus tetap bersekolah untuk kedepan nantinya. Awalnya, aku sedikit berat hati disini. Aku mencari kesibukan untuk merasakan kenyamanan di sekolah ini. Tidak lama setelah aku masuk, ada sebuah seleksi kepengurusan. Aku mencobanya untuk ikut serta. Aku mengikuti seleksi, dan ternyata aku diterima. Untuk mensyukuri penerimaan pengurus baru, aku  mengikuti sebuah acara yang bernama OST (Open Saur Together). Iya, itu sebutan buka bersama di sekolah ini. Acara itu berlangsung dua hari satu malam, acara berlangsung di rumah salah satu pengurus kakak kelas kami. Aku fikir acara ini hanya diikuti oleh pengurus lama dan pengurus baru saja, ternyata alumnus-alumnus yang dulu merupakan pengurus juga hadir disini. Aku senang bisa bertemu dengan kakak-kakak kelas yang sudah lulus terlebih dulu. Aku merasakan mempunyai keluarga baru yang tidak perah aku fikirkan. Aku merasa ada diantara pelukan beribu orang, begitu hangat dan menyenangkan. Disana pula aku bertemu dengan sesosok orang yang awalnya aku tidak memperhatikan siapa dia, aku juga hanya menganggap dia sebagai kakakku sama seperti yang lainnya. Ternyata, sekarang dia tidak hanya sekedar kakak untukku. Itu adalah kesan pertama aku mempunyai sebuah hubungan yang lebih dari sekedar teman. Sebelumnya memang aku belum pernah mengalami itu, karena teman-teman dan semua orang disekelilingku termasuk aku menganggap aku masih seperti seorang anak kecil yang beranjak remaja dan hanya memiliki tugas belajar untuk membahagiakan dan membanggakan kedua orang tuaku. Tapi, kini aku sudah SMA aku sudah hampir menginjak umur untuk mendapatkan sebuah kartu tanda penduduk, itu tandanya aku sudah remaja dan aku bukan anak kecil lagi,jadi aku menganggap aku boleh berada di hubungan ini. Berlanjut ke kepengurusan, ternyata di kepengurusan ini aku dipercaya untuk berada di komisi bidang keberbahasaan. Dalam hati, aku bingung mengapa aku bisa berada disitu,nilai bahasa yang selama ini aku peroleh menurutku tidak bisa dijadikan sebagai alasan karena itu tidak memenuhi. Dari beberapa hasil tes seperti ter psikologi, tes sidik jari dan tes kemampuan otak, dijelaskan bahwa bahasa adalah kemampuan terendah yang aku miliki. Tapi, aku memiliki sedikit pengalaman di bidang bahasa, mungkin itu yang menjadikan kakak-kakak mempercayaiku untuk berada di komisi bidang keberbahasaan. Belum sampai mengalami pelantikan, sudah ada sebuah masalah yang harus kami hadapi. 21 September 2012 kami dikumpulkan oleh kakak-kakak pengurus lama disebuah ruangan. Ruangan itu lah yang menjadi saksi buta jeritan kami semua. Ternyata, sekolah mengatakan jika di dalam sebuah Peraturan Pemerintah tentang kepengurusan perwakilan kelas, setiap kelas harus ada 2 orang yang menjadi pengurus, tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih. Kepengurusan yang sudah disusun saat OST berubah semua. Karena kelasku ada 3 orang yang dulu terpilih dalam kepengurusan ini, aku yang dipilih juga untuk meninggalkan kepengurusan. Sedih, kecewa, sakit memang ada. Tapi iya itu yang harus aku hadapi dalam hidup, hidup ini masih panjang. Aku tidak boleh jatuh hanya karena seperti ini. Tidak hanya aku yang merasakan seperti ini, aku bersama 5 teman dan 7 kakak kelasku lainnya harus terlepas dari kepengurusan. Belum merasakan kerja bersama sebuah organisasi di sekolah untuk lebih memajukan sekolah, aku harus terlepas dari kepengurusan itu. Jangan terlalu disesali, toh aku masih dianggap sebagai keluarga mereka. Karena kepengurusan ini tidak hanya sebuah kepengurusan, tapi juga sebagai keluarga baru bagiku. Tidak lama setelah pengumuman itu, mereka yang masih masuk dalam kepengurusan sudah saatnya dilantik untuk benar-benar resmi dalam kepengurusan. Rasanya tidak ringan hati untuk melihat mereka mengucapkan janji-janji pengurus dihadapan banyak orang. Ingin menjerit rasanya, tapi apa kata orang jika aku terus menyesali keadaan yang memang seharusnya aku terima, aku harus lebih ikhlas dan sabar. Aku yakin, ini bukan akhir dari segalanya. Sebuah kegagalan adalah awal dari sebuah keberhasilan. Mungkin, dibalik semua ini Tuhan sudah menyiapkan rencana yang lebih indah dari ini untukku. J


Tidak ada komentar: