|
K
|
ini
aku sudah resmi anak SMA, berseragam putih abu-abu. Entah senang atau sedih
yang aku rasakan didalam hati. Sejak SD aku berkeinginan untuk melanjutkan sekolah
ke kota dimana eyangku tinggal. Ya, di Semarang. Kota dimana ayah dan ibuku
pertama kali bertemu. Tapi keinginan itu ternyata hanya mimpi, aku tidak
diperbolehkan oleh orang tua untuk melanjutkan kesana. Akhirnya masuklah aku ke
SMA 1 Banjarnegara ini. Sedikit berat untuk menerima, tapi apa boleh buat? Ini
masa depanku, aku harus tetap bersekolah untuk kedepan nantinya. Awalnya, aku
sedikit berat hati disini. Aku mencari kesibukan untuk merasakan kenyamanan di
sekolah ini. Tidak lama setelah aku masuk, ada sebuah seleksi kepengurusan. Aku
mencobanya untuk ikut serta. Aku mengikuti seleksi, dan ternyata aku diterima.
Untuk mensyukuri penerimaan pengurus baru, aku mengikuti sebuah acara yang bernama OST (Open
Saur Together). Iya, itu sebutan buka bersama di sekolah ini. Acara itu berlangsung
dua hari satu malam, acara berlangsung di rumah salah satu pengurus kakak kelas
kami. Aku fikir acara ini hanya diikuti oleh pengurus lama dan pengurus baru
saja, ternyata alumnus-alumnus yang dulu merupakan pengurus juga hadir disini.
Aku senang bisa bertemu dengan kakak-kakak kelas yang sudah lulus terlebih
dulu. Aku merasakan mempunyai keluarga baru yang tidak perah aku fikirkan. Aku
merasa ada diantara pelukan beribu orang, begitu hangat dan menyenangkan. Disana
pula aku bertemu dengan sesosok orang yang awalnya aku tidak memperhatikan
siapa dia, aku juga hanya menganggap dia sebagai kakakku sama seperti yang
lainnya. Ternyata, sekarang dia tidak hanya sekedar kakak untukku. Itu adalah
kesan pertama aku mempunyai sebuah hubungan yang lebih dari sekedar teman.
Sebelumnya memang aku belum pernah mengalami itu, karena teman-teman dan semua
orang disekelilingku termasuk aku menganggap aku masih seperti seorang anak
kecil yang beranjak remaja dan hanya memiliki tugas belajar untuk membahagiakan
dan membanggakan kedua orang tuaku. Tapi, kini aku sudah SMA aku sudah hampir
menginjak umur untuk mendapatkan sebuah kartu tanda penduduk, itu tandanya aku
sudah remaja dan aku bukan anak kecil lagi,jadi aku menganggap aku boleh berada
di hubungan ini. Berlanjut ke kepengurusan, ternyata di kepengurusan ini aku
dipercaya untuk berada di komisi bidang keberbahasaan. Dalam hati, aku bingung
mengapa aku bisa berada disitu,nilai bahasa yang selama ini aku peroleh
menurutku tidak bisa dijadikan sebagai alasan karena itu tidak memenuhi. Dari beberapa
hasil tes seperti ter psikologi, tes sidik jari dan tes kemampuan otak,
dijelaskan bahwa bahasa adalah kemampuan terendah yang aku miliki. Tapi, aku
memiliki sedikit pengalaman di bidang bahasa, mungkin itu yang menjadikan
kakak-kakak mempercayaiku untuk berada di komisi bidang keberbahasaan. Belum
sampai mengalami pelantikan, sudah ada sebuah masalah yang harus kami hadapi.
21 September 2012 kami dikumpulkan oleh kakak-kakak pengurus lama disebuah ruangan.
Ruangan itu lah yang menjadi saksi buta jeritan kami semua. Ternyata, sekolah
mengatakan jika di dalam sebuah Peraturan Pemerintah tentang kepengurusan
perwakilan kelas, setiap kelas harus ada 2 orang yang menjadi pengurus, tidak
boleh kurang dan tidak boleh lebih. Kepengurusan yang sudah disusun saat OST
berubah semua. Karena kelasku ada 3 orang yang dulu terpilih dalam kepengurusan
ini, aku yang dipilih juga untuk meninggalkan kepengurusan. Sedih, kecewa,
sakit memang ada. Tapi iya itu yang harus aku hadapi dalam hidup, hidup ini
masih panjang. Aku tidak boleh jatuh hanya karena seperti ini. Tidak hanya aku
yang merasakan seperti ini, aku bersama 5 teman dan 7 kakak kelasku lainnya
harus terlepas dari kepengurusan. Belum merasakan kerja bersama sebuah
organisasi di sekolah untuk lebih memajukan sekolah, aku harus terlepas dari
kepengurusan itu. Jangan terlalu disesali, toh aku masih dianggap sebagai
keluarga mereka. Karena kepengurusan ini tidak hanya sebuah kepengurusan, tapi
juga sebagai keluarga baru bagiku. Tidak lama setelah pengumuman itu, mereka
yang masih masuk dalam kepengurusan sudah saatnya dilantik untuk benar-benar
resmi dalam kepengurusan. Rasanya tidak ringan hati untuk melihat mereka
mengucapkan janji-janji pengurus dihadapan banyak orang. Ingin menjerit
rasanya, tapi apa kata orang jika aku terus menyesali keadaan yang memang
seharusnya aku terima, aku harus lebih ikhlas dan sabar. Aku yakin, ini bukan
akhir dari segalanya. Sebuah kegagalan adalah awal dari sebuah keberhasilan.
Mungkin, dibalik semua ini Tuhan sudah menyiapkan rencana yang lebih indah dari
ini untukku. J